Belajar dari bayi
*Belajar dari Bayi*.
Sejak lahir ke dunia, secara naluriah kita selalu berupaya melakukan perubahan. Saat merasa tak nyaman berbaring melihat atap terus menerus, secara naluriah kita akan membuat gerakan-gerakan eksperimen agar memperoleh situasi baru yang lebih baik, yaitu dengan belajar tengkurap. Ketika eksperimen itu berhasil, “Wonderful !”, kita menemukan fakta yang mentakjubkan, ternyata dunia lebih luas dari yang kita bayangkan sebelumnya.
Pada posisi yang baru itu kita menyaksikan benda-benda yang jauh lebih banyak. Benda aneh, lucu, indah dan menarik. Otak naluri kita secara reflek memerintahkan kaki kita untuk mengimbangi gerakan otot tangan, dalam sebuah keseimbangan yang menciptakan gerak maju mundur, kekanan dan kekiri , memutar dan seterusnya. Gerakan tanpa sadar ini, selain telah melatih otot tangan dan kaki secara terkoordinir dan seimbang, juga menghasilkan kemampuan untuk meraih benda-benda menarik lebih banyak. Dengan tanpa rasa takut dan ragu-ragu, mereka akan terus melakukan petualangan yang luar biasa.
Selanjutnya mereka mencoba mengerahkan seluruh keberanian yang dimiliki untuk mencoba berjongkok, berpegangan atau mencoba berdiri sendiri, lalu jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi dan seterusnya. Tak ada satupun bayi yang menyerah ketika eksperimennya tak kunjung berhasil. Mereka terus mencoba dengan penuh keberanian yang ada. Akhirnya mereka berhasil berdiri, berjalan, berlari, melompat memanjat, mengenali dan menguasai begitu banyak benda, dan seterusnya.
Pertanyaannya, ketika telah menjadi makhluk dewasa seperti sekarang ini, kenapa kita menjadi sulit untuk berubah dan bertumbuh?!
Terdapat empat kemungkinan penyebab, kenapa bayi begitu mudah melakukan perubahan, sedangkan kita tidak.
PERTAMA, karena bayi selalu didorong oleh situasi “dissatisfaction” atau rasa tidak nyaman dan berhasrat untuk memperoleh situasi baru yang lebih menyenangkan, sedangkan orang dewasa pada umumnya sangat menikmati kenyamanan yang membuat mereka enggan untuk berubah.
KEDUA, bayi tak pernah perduli dan tak pernah membandingkan dirinya dengan bayi lain tentang prestasi yang bisa dicapainya, sedangkan kita orang dewasa, seringkali sensitif terhadap kemajuan yang dicapai oleh orang lain, dan ketika kita menemukan fakta bahwa diri kita tak seprogresif orang lain, dalam kemajuan, kita akan menjadi tertekan.
KETIGA, bayi tidak tahu, apa arti atau konsekuensi dari perubahan itu? Justru hal itulah yang membuat mereka asyik pada tantangan-tantangan baru tanpa peduli apapun itu.
KEEMPAT, tidak ada sesosok bayi normalpun yang gagal melakukan eksperimennya. Sementara kita dipenuhi oleh rasa takut, bayangan-bayangan kegagalan, pesismisme, tidak percaya diri sebelum memulai suatu langkah.
Why ?
Jawabannya sangat mudah, karena mereka tidak punya konsep kegagalan. Tidak pernah berfikir akan gagal. Bahkan kata “gagal” pun mereka belum mengenal, sebelum nanti para orang dewasalah yang mengajarkannya. SO, kalau tidak ada produk mental berupa konsep kegagalan yang menyebabkan kita takut mengulang lagi, maka sebenarnya kegagalan itu tidak pernah ada !!

Comments
Post a Comment